9.08.2008

pagi itu

. 9.08.2008
14 komentar

Pagi itu belum merah. mungkin mendung masih akan menggelayut. mungkin juga tidak. cuma belum merah saja. embun masih setia menempel di punggung daun, sisa tangis langit semalam.

jika ada seorang yang berdiam diri di depan danau pagi buta, itu aku. aku dan segala keresahanku. ingin mengubur ingatan dalam-dalam akan sebuah masa. namun aku terlalu rapuh untuk bisa menjauh. terlalu sesak untuk bisa menolak. meskipun kutahu, ingatan yang terlalu ingin dienyahkan tak akan begitu saja menyerah. bahkan mungkin akan lebih berani menghantuiku.

aku tak tahu bila ia menyudahinya itu bukanlah tanpa alasan. aku tahu pasti. mungkin aku yang terlalu angkuh atau ia yang tak terlalu butuh. entahlah. atau mungkin aku tak terlalu cinta padanya, atau ia tak terlalu cinta padaku.

cinta?
tahu apa aku tentang cinta?

jika ada seorang yang duduk dan menangis di tepi danau berkabut di pagi buta, itu aku. aku dan segala keresahanku yang tak segera usai ku pahami. aku dan segala kesedihan yang tak dapat kubendung. pecah dalam sebuah tangisan.

Lanjutkan kisah perjalananmu.... »»

9.06.2008

Mencari Cinta di Deretan Huruf yang Tersayat

. 9.06.2008
15 komentar

Jangan jejali aku dengan berita buruk itu. Sungguh, baris-baris kalimat yang ditulis dengan darah peradaban bangsa ini telah menyiksaku, menjerumuskanku pada setitik kegetiran.


Hari ini, hari yang kesekian, kembali aku membuka lembar-lembar surat kabar ini, dengan satu pengharapan sederhana; aku ingin menemukan cinta. Ceritakanlah padaku sebuah kisah tentang cinta, kasih dan pengorbanan. Sekali saja!

Tapi lembar demi lembar surat kabar itu menjelma semu di mataku. Deretan huruf-huruf sengaja disayat, dipotong untuk memagari ketenteraman semu yang mereka tumbuhkan di tiap lembar sejarah ini.

Pikiranku menerawang ke sebuah tempat yang entah. Ke sebuah pemukiman kumuh di pojok kota. Hanya cahaya pagi yang berhak menghapus mimpi-mimpi kecil dalam kelembaban rumah-rumah kardus sepanjang perbatasan ibukota. Inikah gambaran kecil peradaban ini? Atau jangan-jangan, inilah ketakutan terbesar yang sedang mengombang-ambingkan perjalanan nasib.

Membaca surat kabar hari ini, sungguh aku merasa membaca semesta. Aku nyaris mengerti. Kemegahan ibukota telah ditumpahi tinta buram dari darah huruf-huruf yang disayat. Yang dipotong sebelum dideretkan dalam halaman sejarah yang wajib dihapal esok pagi.

Aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Menunggu untuk sebuah pertimbangan yang tak berkesudahan. Aku terlalu bosan dengan pertikaian demi pertikaian yang senantiasa membuatku tersudut.

Sungguh, ingin sekali aku menjumpai cinta di lembar sejarah ini. Maka, ceritakanlah padaku kisah tentang drama percintaan semesta, meski (mungkin) hanya sebuah dongeng pengantar tidur saja.

Inspirasi: surat kepada aistyaningnung 5

Lanjutkan kisah perjalananmu.... »»

9.05.2008

meracau tak jelas

. 9.05.2008
4 komentar

Kau yang ada disana. kau ingat ketika kita pertama berjumpa? saat itu hujan jarang turun dikotaku. mungkin juga di pulaumu.

ya, pulaumu. aku selalu menjaga ingatan akan pulaumu. kangen mendengar tetabuhan di pagi yang beku. entah, sudah berapa purnama kulewatkan. begitu berjarak aku dengannya sekarang. kami tak lagi pasangan intim yang menghabiskan malammalam tanpa bintang dengan bercinta dan mendengarkan nyanyian cengeng.

ah, aku mulai meracau. sama seperti pertama kali ku singgah di rumahmu yang lalu. berceloteh tak karuan kesana kemari. mungkin kau menggumam, ’siapakah ini pengembara aneh yang sok tahu’. aku mencaci dan berteriak. tapi kau terlalu baik, kau mempersilahkanku masuk. kemudian kita bertiga: aku, kau dan senja yang menggantung saling tersenyum, sambil sesekali menuang teh yang kau hidangkan. kita bercerita tentang hidup yang menurutmu tak lagi bersahabat.

itu dulu. sebelum kau ayunkan kaki ke peraduan hitam pekatmu. sebelum kau sibuk mengukur langkahlangkah besarmu, sebelum kau terlalu sibuk di tiap persinggahanmu, sebelum kau sibuk dengan mereka yang baru.

aku. dari kejauhan. melihat mereka, sama sepertiku. kau sambut dengan senyum lebar dan jabat hangat. sama sepertiku dulu. jadilah kini rumahmu kian ramai. aku turut senang.

tapi kau tahu? aku merasa tak lagi begitu mengenalmu.

seperti aku dan pulaumu yang berjarak.

maaf, mungkin tak seharusnya aku menuliskan ini. mungkin tak seharusnya aku menghantuimu dengan pikiranpikiran burukku. kau terlalu baik, padaku dan pada mereka.

kau yang ada disana. kalaulah masih sudi mendengar keluh kesahku di pagi beku ini, aku berterima kasih. aku tak minta banyak, aku tak bisa memberi banyak. aku hanya ingin berbisik, meski tak dapat terdengar oleh telingamu

to: kau tahu kau siapa
jangan terlalu diambil hati, aku tak apa

sumber: Cerita Senja

Lanjutkan kisah perjalananmu.... »»
 
APRESIASI SAHABAT
KISAH-KISAH YANG TERCATAT